Bersama dengan Kemendikbud RI, Pemkab KSB Hadirkan Seniman ke Sekolah

Acara Pementasan dan Pemeran Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) di SMAN 1 Taliwang. (Foto: Pemkab Sumbawa Barat)

Taliwang,Sumbawa Barat- Bupati Sumbawa Barat , Musyafirin, mengharapkan adanya ulama di sekolah. Selain seniman, bupati menjelaskan bahwa ilmu mengolah hati juga menjadi penting bagi siswa-siswi di Sumbawa.

“Mudahan ke depan ada Gerakan Ulama Masuk Sekolah, tidak hanya seniman,” kata Bupati.

Hal ini disampaikannya saat memberi sambutan pada acara Pementasan dan Pemeran Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) di SMAN 1 Taliwang, Sabtu pagi (14/12/19).

Menurutnya, GSMS merupakan gerakan membangun jalan pikiran yakni dengan mengolah rasa siswa-siswi untuk diperkenalkan seni oleh seniman. Gerakan ini sangat baik untuk pengembangan wawasan dan praktik seni generasi muda, sehingga akan lahir seniman-seniman baru di KSB.

‘’Saya sangat apresiasi, GSMS salah satu upaya membangun jalan kelima yakni jalan pikiran, dengan mengolah rasa, mudah-mudahan ada lagi mengolah hati oleh ulama. Kalau pemerintah sudah membangun empat jalan sebagai kewajibannya, yakni jalan tanah atau pengaspalan, jalan api atau listrik, jalan air atau air bersih dan jalan angin atau sinyal,” kata Bupati.

Namun begitu, ulama juga harus memiliki peran dalam memberikan pembelajaran. Ulama juga memiliki peran untuk mendidik  siswa agar memiliki iman dan takwa yang kuat. Sebagai upaya regenerasi mempersiapkan pencerah umat, menjadi ustadz, da’i, memperkenalkan musik rabana, kasidah hal-hal yang bernuansa islami.

GSMS adalah kegiatan dari kerja sama Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI dan Pemerintah KSB. Total anggaran GSMS adalah Rp. 800 juta, Rp. 500 juta dari Kemendikbud dan Rp. 300 dari Dikpora KSB. GSMS bertujuan untuk menghadirkan seniman langsung ke sekolah guna menambah wawasan, karakter dan motivasi peserta didik dalam bidang seni. Kegiatan yang telah berjalan tiga bulan ini dilaksanakan di 13 SD dan delapan SMP dengan melibatkan 21 seniman hebat KSB. Jenis pembelajarannya adalah seni musik, seni tari, seni rupa, seni theater dan seni media.

Pembelajaran Seni Budaya Berbasis Kearifan Lokal

Pembelajaran seni budaya dapat membangun karakter dan nilai-nilai moral. Karakter ini bisa menjadikan karakter sebagai fondasi utama terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera.

Tujuan pendidikan karakter adalah berupa tanggapan individu, sosial, kultur yang melingkupinya, untuk dapat menempa diri menjadi sempurna sehingga potensi-potensi yang ada di dalam dirinya berkembang secara penuh.

Pentingnya tujuan pendidikan karakter sebagai pembentuk pedoman perilaku, dengan cara menyediakan ruang bagi figur keteladanan bagi anak didik dan menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif bagi proses pertumbuhan berupa kenyamanan, keamanan yang membantu suasana pengembangan diri satu sama lain (Doni,2010:134).

Pembelajaran berbasis kearifan lokal merupakan pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran student centered dari pada teacher centered. Hal ini sejalan dengan pernyataan Suparno (dalam Darlia 2010: 2) bahwa belajar bukan sekadar kegiatan pasif menerima materi dari guru, melainkan proses aktif menggali pengalaman lama.

Menurutnya, pembelajaran juga untuk mencari dan menemukan pengalaman baru serta mengasimilasi dan menghubungkan antara keduanya sehingga membentuk makna. Makna tercipta dari apa yang siswa lihat, dengar, rasakan, dan alami. Untuk guru, mengajar adalah kegiatan memfasilitasi siswa dalam mengkonstruksi sendiri pengetahuannya lewat keterlibatannya.