Festival Taliwang tahun 2019 Tampilkan Tarian Lumpur

Ratusan penari yang sedang latihan untuk persiapan puncak Festival Taliwang. (Foto: Suara NTB)

Sumbawa- Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sukses menyelenggarakan pagelaran kegiatan Festival Taliwang tahun 2019. Festival ini bersamaan dengan puncak peringatakan Harlah KSB ke-16 itu akan digelar 20 November ini.

Kepala Disbudpar KSB Ir. IGB Sumbawanto, menjelaskan, saat ini pagelaran budaya dengan mengusung tema festival lumpur.

“Yang akan menari ini ada 500 lebih. Mereka latihan secara terpisah nah seminggu ini mereka sudah mulai digabung supaya nanti seirama semuanya,” paparnya.

Semarak festival ini diawali dengan beragam kegiatan. Lomba Fotografi (13-20 November) menjadi ajang talenta keahlian memotret. Para pelajar juga ikut serta dalam Parade Lomba Budaya dengan membawakan pentas ataupun Lomba Seni Budaya.

Para pengunjung turut akan tergiur dengan kuliner khas Sumbawa Barat seperti Tumi Sepi, Rusa Bakar dan Uta Londe Puru di Bazar Kuliner Etnis Ontar Telu (13-19 November). Baik itu Gecok, Ayam Bakar Taliwang, Sepat, Singang dan Uta Palamara, Mangge Mada hingga Bubur Palopo, lidah pengunjung akan dimanjakan dengan cita rasa khas Sumbawa Barat.

Tarian dalam Festival

Menurut Sumbawanto, sajian tarian yang akan dipertunjukkan pada festival Taliwang sangat fenomenal. Tarian dengan mengadopsi kebiasaan budaya masyarakat samawa itu selaih ditarikan ratusan penari secara kolosal, lokasi menarinya pun sangat unik. Keunikannya karena seluruh penari

Tarian lumpur itu sendiri memang dianggap sangat unik. Sutradara koreografer tarian itu, yakni Eko Suprianto mengaku, baru kali ini dirinya meramu tarian tradisonal yang menggunakan lumpur sebagai media pertunjukannya.

“Saya bisa katakan ini tarian sangat unik. Bahkan ini satu-satunya di Indonesia bahkan mungkin di dunia,” klaimnya.

Eko menjelaskan, konsep tarian yang diciptakannya pada festival Taliwang ini seluruhnya mengadopsi keragaman adat isti adat masyarakat Sumbawa (samawa) khususnya KSB.

“Gerakannya kita semua ambil dari gerakan kebiasaan masyarakat setempat. Tapi kami juga elaborasi tema alur ceritanya dengan mengambil gimmic percitaan remaja. Jadi akan sangat epik tarian ini nantinya,” papar lelaki yang akrab disapa Eko PeCe ini.

Lima puluh penari wanita juga akan memenuhi panggung lumpur untuk Tarian Pembawa Kolong. Melalui gerakan yang khas, setiap gerakan mencerminkan konsep konservasi air sebagai sumber kehidupan.

Budaya tari nan kaya juga akan dibawakan melalui Tarian Benteng Berinas, Tarian Barapan Kebo, Iring Kebo Lumpur Seni dan Sakeco di Atas Kerbau.

Dengan komposisi yang unik dan etnik, Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenparekraf Muh. Ricky Fauziyani menyatakan wajar apabila festival ini masuk ke dalam Calendar of Events (CoE) 2020.