Desa Bangkat Monteh Jadi Contoh Pelaksanaan STBM

Sebelum kegiatan deklarasi, Bupati didampingi Kasdim, Wakapolres, Camat Brang Rea dan Kapolsek diajak berkeliling Desa Bangkat Monteh. (Foto: Diskominfo KSB)

Brang Rea – Warga bersama Pemerintah Desa Bangkat Monteh, Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat komitmen melaksanakan lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarkat (STBM). Desa Bangkat Monteh merupakan desa pertama di Sumbawa Barat yang berkomitmen untuk melaksanakan STBM.

“Kita mulai dari pinggir melaksanakan STBM, bukan dari tengah. Bangkat Monteh jadi percontohan di KSB melaksanakan STBM,” kata Bupati pada acara Deklarasi Komitmen Pelaksanaan Lima Pilar STBM di Lapangan Desa Bangkat Monteh, Kamis (5/9/2019).

Dalam keterangan tertulis Pemkan Sumbawa Barat, Bupati menilai bahwa melaksanakan lima pilar STBM tidaklah sulit. Disebutkannya, pilar pertama yakni bebas buang air besar sembarangan sudah terpenuhi karena Kabupaten Sumbawa Barat merupakan satu dari 24 kabupaten/kota di tingkat nasional yang menjadi kabupaten ODF. Pilar kedua, yakni cuci tangan dengan sabun, tinggal dibiasakan. Kemudian pilar ketiga, yaitu pengelolaan air minum, warga bisa merebuh air minum jika tidak mampu membeli air mineral.

Yang menjadi tantangan, tandas Bupati, adalah pilar kelima, yaitu pengelolaan limbah cair rumah tangga. Bupati menyarankan kepada warga untuk membuat sumur resapan dan jangan membuang limbah ke selokan. “Capaian STBM di Bangkat Monteh sudah sangat baik, tinggal menekan limbah cair rumah tangga. Jika semuanya baik maka masyarakat dan lingkungan akan bersih dan sehat,” jelas Bupati.

Strategi STBM

Tantangan pembangunan sanitasi di Indonesia adalah masalah sosial budaya dan perilaku penduduk yang terbiasa buang air besar di sembarang tempat, khususnya ke badan air yang juga bisa digunakan untuk mencuci, mandi, dan kebutuhan higienis lainnya. Menurut studi dari World Bank (2007), buruknya kondisi sanitasi merupakan salah satu penybab kematian anak di bawah 3 tahun, yaitu sebesar 19 persen atau sekitar 100 ribu anak meninggal karena diare setiap tahunnya.

Menurut Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekes Kemenkes Banjarmasin Hardiono, kondisi seperti ini dapat dikendalikan melalui intervensi terpadu dengan pendekatan sanitasi total. Hal ini dibuktikan melalui hasil studi WHO tahun 2007, yaitu kejadian diare menurun 32 persen dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap sanitasi dasar, 45 persen dengan perilaku mencuci tangan pakai sabun, dan 39 persen perilaku pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga. Sedangkan dengan mengintegrasikan ketiga perilaku intervensi tersebut, kejadian diare menurun sebesar 94 persen.

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah penekatan untuk mengubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Strategi STBM menurut Hardiono bisa dilakukan dengan meningkatkan peran seluruh pemangku kepentingan dalam perencanaan dan pelaksanaan sosialisasi pengembangan kebutuhan. Mengembangkan kesadaran masyarakat tentang konsekuensi dari kebiasaan buruk sanitasi dan dilanjutkan dengan pemicuan perubahan perilaku komunitas juga perlu dilakukan.

Selain itu, strategi yang bisa dilakukan antara lain: meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memilih teknologi, material, dan biaya sarana sanitasi yang sehat; mengembangkan kepemimpinan di masyarakat (natural leader) untuk memfasilitasi peicuan perubahan perilaku masyarakat; serta mengembangkan sistem penghargaan kepada masyarakat untuk meningkatkan dan menjaga keberlanjutan sanitasi total.