UTS Ditantang Jawab Ketersediaan EBT

Maritje Hutapea, direktur Jenderal Aneka Energi Baru dan Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sember Daya Mineral (ESDM) berfoto bersama jajaran akademisi UTS. (Sumber: UTS).

UTS, SUMBAWADAiLY.COM ** Mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) ditantang untuk menjawab permasalah kurangnya ketersediaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) oleh Maritje Hutapea, direktur Jenderal Aneka Energi Baru dan Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sember Daya Mineral (ESDM).

Seperti diberitakan laman resmi UTS beberapa waktu lalu saat pembukaan kegiatan Sosialisasi Kebijakan dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan di Aula Serbaguna UTS. Tantangan yang diberikan Maritje tersebut bersumber dari pasokan energi saat ini baik listrik dan nonlistrik dari fosil seperti minyak bumi, batu bara, gas bumi sebesar 93% yang menurut data akan habis dalam waktu yang tidak lama.

Dan itu tidak akan dapat memenuhi kebutuhan 250 juta penduduk dengan rasio pertumbuhan 1,1%. Untuk itu Maritje berharap kepada semu kalangan di NTB dan Pulau Sumbawa untuk dapat berkontribusi.

Lebih lanjut Maritje mengatakan jika permasalahan EBT tidak berkembang seharusnya menjadi tantangan tidak hanya untuk kementerian ESDM tetapi juga untuk stackholder dari element Akademisi, Bisnis, Goverment, dan Comunity (ABGC). Akademisi punya kontribusi yang signifikan jika ingin memajukan sektor energi untuk mencukupi kebutuhan energi dan pertumbuhan ekonomi.

“Secara keseluruhan, data yang kami miliki, total potensi EBT itu sekitar 443 giga watt yang berasal dari energi panas bumi, tenaga air, bioenergi, energi surya, energi angin, bahkan energi laut. Dengan kondisi geografis yang seperti ini. Saya menyatakan semua energi baru dan terbarukan ada di Pulau Sumbawa dan juga di NTB,” tuturnya.

Menurut Maritje, salah satu peranan akademisi melalui skema pengabdian masyarakatnya diharapkan melakukan penelitian teknologi EBT yang sesuai dengan industri. Sehingga, hasil dari penelitian dapat diimplementasi oleh industri untuk diproduksi di dalam negeri. Sejauh ini, teknologi yang digunakan EBT masih diimport dan dibayar mahal.

“Mudah-mudahan UTS berkontribusi dan melakukan sesuatu untuk memberikan jawaban atas tantangan-tantangan yang ada. Semoga UTS semakin maju dan dikenal menjadi tempat mendidik anak bangsa menjadi manusia yang berguna,” harapnya seperti dikutip dari situs yang sama.