Bupati Ajak Masyarakat Tekan Inflasi

Bupati KBS, W. Musyafirin mengajak semua pihak untuk turut serta dalam menekan angka inflasi di daerah. (Sumber: KSB).

Taliwang, SUMBAWADAILY.COM ** Bupati Sumbawa Barat, W. Musyafirin, mengajak semua pihak untuk turut serta dalam menekan angka inflasi di daerah. Salah satunya dengan mengembangkan hortikultura yang menjadi salah satu penyumbang inflasi.

Dilansir dari laman resmi pemerintah KSB, Bupati mengajak masyarakat untuk bersama-sama menekan inflasi di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Disebutkan inflasi di KSB lebih dominan disebabkan oleh kebutuhan hortikultura atau sayuran yang tinggi. Sementara selama ini kebutuhan tersebut didatangkan dari luar KSB.

Pada acara peresmian Kantor Desa Mura di Kecamatan Brang Ene belum lama ini, Bupati mengatakan pada 20 November mendatang setiap desa akan mendapatkan dana Rp 10 juta dari pemerintah. Anggaran tersebut diharapkan bisa untuk pengadaan bibit sayuran di setiap desa/kelurahan.

”Masalah inflasi ini juga dibahas Presiden. Bupati/Wali Kota diundang ke Istana Selasa lalu,” kata dia seperti dikutip situs tersebut.

Berdasarkan informasi yang disampaikan di laman resmi Badan Pusat Tsatistik (PBS) KBS, pada Januari 2017, Nusa Tenggara Barat mengalami inflasi sebesar 1,49 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 125,25 pada Desember 2016 menjadi 127,17 pada Januari 2017. Angka inflasi tersebut berada di atas angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,97 persen.

Komoditas terbesar penyumbang inflasi adalah biaya perpanjangan STNK, cabai rawit, tarip listrik, rokok kretek filter, sewa rumah, tomat sayur, rokok kretek, beras, tarip pulsa ponsel dan bensin.

Sedangkan komoditas terbesar yang memberikan sumbangan terjadinya deflasi adalah bawang merah, jeruk, angkutan udara, pisang, jagung manis, ayam hidup, apel, kembung/gembung/banyar/gembolo/aso-aso, pepaya dan cabai merah.

Pada Februari 2017, Nusa Tenggara Barat mengalami inflasi sebesar 0,24 persen, atau terjadi kenaikan IHK dari 127,12 pada Januari 2017 menjadi 127,42 pada Februari 2017. Angka inflasi ini berada di atas angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,23 persen.

Komoditas terbesar penyumbang inflasi adalah tarip air minum, tongkol/ambu-ambu, cabai rawit, tarip listrik, tongkol pindang, kembung/gembung/banyar/gembolo/aso-aso, emas perhiasan, upah pembantu rumah tangga, cabai merah dan sate.

Sedangkan komoditas terbesar yang memberikan sumbangan terjadinya deflasi adalah tomat sayur, daging ayam ras, jeruk, beras, bawang merah, angkutan udara, kol putih/kubis, apel, telur ayam ras dan bandeng/bolu.